Taman orang-orang shalih - Imam Nawawi Para alim-ulama berkata: "Mengerjakan taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jikalau kemaksiatan itu terjadi antara seseorang hamba dan antara Allah Ta'ala saja, yakni tidak ada hubungannya dengan hak seseorang manusia yang lain, maka untuk bertaubat itu harus menetapi tiga macam syarat, iaitu: Pertama hendaklah menghentikan sama sekali-seketika itu juga -dari kemaksiatan yang dilakukan, kedua ialah supaya merasa menyesal kerana telah melakukan kemaksiatan tadi dan ketiga supaya berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Jikalau salah satu dari tiga syarat tersebut di atas itu ada yang ketinggalan maka tidak sahlah taubatnya. Apabila kemaksiatan itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat macam, iaitu tiga syarat yang tersebut di atas dan keempatnya ialah supaya melepas-kan tanggungan itu dari hak kawannya. Maka jikalau tanggungan itu berupa harta atau yang semisal dengan itu, maka wajiblah mengembalikannya kepada yang berhak tadi, jikalau berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwakan atau meminta saja pengampunan daripada kawannya dan jikalau merupakan pengumpatan, maka hendaklah meminta penghalalan yakni pemaafan dari umpatannya itu kepada orang yang diumpat olehnya. Seseorang itu wajiblah bertaubat dari segala macam dosa, tetapi jikalau seseorang itu bertaubat dari sebahagian dosanya, maka taubatnya itupun sah dari dosa yang dimaksudkan itu, demikian pendapat para alim-ulama yang termasuk golongan ahlul haq, namun saja dosa-dosa yang lain-lainnya masih tetap ada dan tertinggal - yakni belum lagi ditaubati. |
21 Maret 2012
Riyadhus Shalihin : Taubat
16 Maret 2012
Kaum Luth
HARUN YAHYA
Salah satu adzab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Al-Quran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diadzab Allah karena melakukan praktek homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom. Sehingga karena itu praktek homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi. Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati. Layaknya orang jungkir-balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu pula kota Sodom, saat runtuh dan terjungkal, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Quran: Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (Surat Huud ayat 82). |
14 Maret 2012
Futuuhul Ghaib : Risalah 3
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani
| Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia cuba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada doktor. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil kerana sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq. Kemudian bila tak juga memperolehi pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewa terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktiviti dan upaya duniawi, dan bertumpu pada rohaninya. Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperolehi setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahawa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali kerana ALLAH. |
22 Februari 2012
Suster Rumah Sakit Jiwa
.
Suatu ketika, pasien-pasien di Rumah Sakit Jiwa di sebuah kota terpaksa harus dipindahkan ke RSJ lainnya di kota lain yang jaraknya cukup jauh. Untuk itu, mereka dinaikkan ke pesawat terbang bersama dengan seorang suster perawat.
Semula penerbangan berjalan lancar, tetapi kemudian orang-orang gila itu mulai berulah. Salah satu dari mereka membawa bola dan mengajak teman-temannya main bola di dalam pesawat. Suasana di dalam pesawat menjadi gaduh karena mereka berteriak-teriak kegirangan. Bola dilempar ke sana ke mari, bahkan sekali-kali sampai masuk ke ruang pilot.
Pilot menjadi marah karena konsentrasinya terganggu dan memanggil suster,
“Tolong mereka ditenangkan! Saya merasa sangat terganggu. Bisa-bisa pesawat ini menabrak gunung jika terus begini.”
Untuk sementara mereka bisa tenang, tapi tak lama kemudian mereka mulai main bola lagi di dalam pesawat sehingga pilot kembali marah-marah kepada suster. Hal itu terjadi berulang kali sampai akhirnya pilot berkata,
“Suster, pokoknya saya tidak mau tahu. Mereka harus disuruh tenang. Anda sebagai suster RSJ harus bisa mengendalikan mereka.”
“Baik pak,” jawab suster, “kali ini benar-benar akan saya bereskan.”
Tak berapa lama kemudian, suasana di dalam pesawat menjadi tenang dan sepi sekali sehingga membuat pilot keheranan.
Ia memanggil suster dan memuji,
Suatu ketika, pasien-pasien di Rumah Sakit Jiwa di sebuah kota terpaksa harus dipindahkan ke RSJ lainnya di kota lain yang jaraknya cukup jauh. Untuk itu, mereka dinaikkan ke pesawat terbang bersama dengan seorang suster perawat.
Semula penerbangan berjalan lancar, tetapi kemudian orang-orang gila itu mulai berulah. Salah satu dari mereka membawa bola dan mengajak teman-temannya main bola di dalam pesawat. Suasana di dalam pesawat menjadi gaduh karena mereka berteriak-teriak kegirangan. Bola dilempar ke sana ke mari, bahkan sekali-kali sampai masuk ke ruang pilot.
Pilot menjadi marah karena konsentrasinya terganggu dan memanggil suster,
“Tolong mereka ditenangkan! Saya merasa sangat terganggu. Bisa-bisa pesawat ini menabrak gunung jika terus begini.”
Untuk sementara mereka bisa tenang, tapi tak lama kemudian mereka mulai main bola lagi di dalam pesawat sehingga pilot kembali marah-marah kepada suster. Hal itu terjadi berulang kali sampai akhirnya pilot berkata,
“Suster, pokoknya saya tidak mau tahu. Mereka harus disuruh tenang. Anda sebagai suster RSJ harus bisa mengendalikan mereka.”
“Baik pak,” jawab suster, “kali ini benar-benar akan saya bereskan.”
Tak berapa lama kemudian, suasana di dalam pesawat menjadi tenang dan sepi sekali sehingga membuat pilot keheranan.
Ia memanggil suster dan memuji,
Kisah Nenek Yang Ikhlas
.
Seorang nenek harus berjalan jauh ke pasar di kota untuk menjual bunga cempaka. Itulah kerja hariannya.
Selepas berjualan, beliau singgah dahulu ke masjid di kota untuk bersolat zuhur. Selepas berdoa dan berwirid sekadarnya, nenek itu akan terlebih dahulu membersihkan dedaunan yang berserakan di halaman masjid. Ini dilakukannya setiap hari di bawah terik matahari. Setelah semua dedaunan itu dibersihkan barulah beliau pulang ke desanya. Jemaah dan pengelola masjid kasihan melihat rutinitas nenek yang demikian.
Suatu hari, pengurus masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang berserakan di halaman masjid sebelum nenek itu datang. Fikirnya, usaha itu akan membantu nenek tadi agar tidak perlu bersusah payah membersihkan halaman masjid itu.
Rupanya, niat baik itu telah membuat nenek tersebut menangis sedih.
Dia memohon supaya dia terus diberi kesempatan membersihkan halaman masjid seperti biasa.
Akhirnya, pihak masjid terpaksa membiarkan situasi berjalan seperti biasa supaya nenek itu tidak bersedih lagi.
Satu ketika saat ditanya oleh seorang kiyai mengapa nenek tersebut melakukan hal itu, nenek tersebut menjawab:
“Saya ini perempuan bodoh, kiai. Saya tahu amal-amal saya yang kecil ini mungkin juga tidak benar dijalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam".
“Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu sholawat kepada Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam. Kelak jika saya mati, saya ingin Rasulullah menjemput saya."
“Biarlah semua dedaunan ini bersaksi bahwa saya telah membacakan selawat kepadanya.”
Langganan:
Postingan (Atom)




